Oleh: Dr Kheryadi Syam, M.Pd*
RADARBANGSA.COM -Tidak ada masyarakat yang runtuh karena kekurangan orang-orang cerdas. Yang membuat sebuah bangsa perlahan rapuh justru ketika rasa peduli mulai menghilang, ketika hati tidak lagi terusik oleh penderitaan sesama, dan ketika nilai-nilai kemanusiaan dikalahkan oleh ego serta hasrat untuk diakui. Gejala itu kini semakin tampak dalam kehidupan sebagian remaja kita.
Hampir setiap hari ruang digital dipenuhi berita yang menyisakan keprihatinan. Perundungan direkam lalu diunggah demi meraih perhatian. Pertengkaran dijadikan tontonan. Ujaran kasar dianggap kelakar. Bahkan, tidak sedikit yang memilih mengeluarkan telepon genggam untuk merekam seseorang yang sedang menjadi korban daripada mengulurkan tangan untuk menolong.
Kita seperti sedang menyaksikan perubahan cara pandang: penderitaan orang lain tidak lagi menggugah belas kasih, melainkan menjadi bahan konsumsi publik.
Inilah persoalan yang patut kita renungkan bersama. Yang sedang dihadapi bukan lagi kenakalan remaja dalam pengertian biasa, melainkan memudarnya kepekaan sosial dan empati. Ketika hati tidak lagi mudah tersentuh, batas antara benar dan salah pun perlahan menjadi kabur.
Empati sesungguhnya adalah inti dari kehidupan bermasyarakat. Dari sanalah lahir sikap menghormati, menghargai perbedaan, menolong tanpa diminta, dan menahan diri agar tidak melukai orang lain. Tanpa empati, kecerdasan dapat berubah menjadi alat untuk merendahkan. Pengetahuan bisa digunakan untuk mempermalukan. Bahkan teknologi yang diciptakan untuk mendekatkan manusia justru berpotensi menjauhkan hati satu sama lain.
Kita hidup pada zaman yang menawarkan kemudahan dalam hampir segala hal. Informasi hadir dalam hitungan detik, hiburan tersedia tanpa batas, dan pengakuan dapat diperoleh melalui jumlah pengikut ataupun tanda suka di media sosial. Di balik semua kemudahan itu tersimpan jebakan yang tidak selalu disadari. Perlahan, ukuran keberhasilan bergeser. Banyak remaja lebih sibuk membangun citra dibanding membentuk karakter. Mereka belajar bagaimana terlihat menarik, tetapi tidak selalu belajar bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat.
Media sosial ikut mempercepat perubahan tersebut. Algoritma lebih menyukai sensasi daripada kebijaksanaan. Konten yang memancing kemarahan atau memperlihatkan konflik jauh lebih cepat menyebar dibanding kisah tentang kepedulian. Lama-kelamaan, kekerasan verbal terasa biasa. Cacian dianggap hiburan. Rasa malu memudar karena semuanya berlindung di balik layar.
Namun, menuding remaja sebagai penyebab utama tentu bukan sikap yang adil. Mereka tumbuh di tengah lingkungan yang juga sedang mengalami perubahan besar. Rumah yang dahulu menjadi tempat berbagi cerita perlahan berubah menjadi ruang yang dipenuhi kesibukan. Percakapan digantikan oleh layar. Kebersamaan sering tergeser oleh rutinitas. Anak-anak mengenal dunia digital lebih cepat daripada mengenal kedalaman dialog dengan keluarganya sendiri.
Sekolah pun menghadapi tantangan yang tidak ringan. Selama ini keberhasilan pendidikan masih sering diukur melalui angka rapor, nilai ujian, atau prestasi akademik. Semua itu memang penting, tetapi belum cukup. Pendidikan sejatinya bertugas membentuk manusia yang cerdas dalam berpikir sekaligus bijaksana dalam bersikap. Tidak banyak gunanya melahirkan generasi yang unggul secara intelektual apabila mereka gagal menghargai martabat sesamanya.
Karena itu, penguatan karakter tidak boleh berhenti sebagai slogan. Remaja perlu diberi lebih banyak kesempatan untuk mengalami kehidupan secara nyata: mengunjungi mereka yang hidup dalam keterbatasan, terlibat dalam kegiatan sosial, belajar mendengar keluh kesah orang lain, serta merasakan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari pencapaian pribadi, melainkan juga dari kemampuan memberi manfaat.
Yang tidak kalah penting adalah keteladanan. Anak-anak lebih mudah meniru daripada mendengarkan nasihat. Sulit mengharapkan mereka tumbuh santun apabila setiap hari menyaksikan kemarahan. Sulit meminta mereka berempati apabila orang-orang dewasa di sekelilingnya gemar saling mencaci. Karakter tidak diwariskan melalui pidato, melainkan melalui perilaku yang terus-menerus mereka lihat.
Di tengah derasnya arus modernisasi, kita tentu tidak ingin melahirkan generasi yang hebat mengoperasikan teknologi, tetapi gagap memahami perasaan manusia. Kita boleh bangga ketika remaja menguasai berbagai bahasa, memenangkan kompetisi internasional, atau mahir memanfaatkan kecerdasan buatan. Namun, kebanggaan itu akan terasa hampa apabila mereka tidak lagi mampu menghormati orang tua, menghargai guru, menghibur sahabat yang sedang terluka, atau menolong seseorang tanpa mengharapkan pujian.
Peradaban tidak diukur dari seberapa canggih teknologinya, melainkan dari kualitas manusianya. Bangsa yang besar bukan hanya dihuni oleh orang-orang yang pandai berpikir, tetapi juga oleh mereka yang memiliki hati yang hidup. Sebab ketika empati tetap terjaga, ilmu akan melahirkan kebijaksanaan, kekuasaan akan melahirkan keadilan, dan kemajuan akan membawa kemaslahatan.
Maka, tugas kita hari ini bukan semata-mata mencetak remaja yang berprestasi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan mereka tetap menjadi manusia yang mampu merasakan, peduli, dan menghormati sesamanya. Sebab hati yang hidup akan selalu menemukan jalan menuju kebaikan, sedangkan kecerdasan tanpa empati hanya akan melahirkan manusia-manusia yang pintar, tetapi kehilangan arah kemanusiaannya.
*Pengamat Pendidikan Banten dan Dosen Pascasarjana UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten