Belajar dari Huruf `Ba`: Kesederhanaan dan Adab Menuntut Ilmu

Senin, 10 Agustus 2026 20:36 WIB
Dr. Kheryadi, M.Pd
Dr. Kheryadi, M.Pd

Oleh: Dr. Kheryadi Syam, M.Pd*

RADARBANGSA.COM - Barangkali persoalan terbesar pendidikan hari ini bukan rendahnya kemampuan berpikir, melainkan tingginya ego untuk merasa sudah tahu.

Kita hidup pada zaman ketika setiap orang dapat berbicara, tetapi semakin sedikit yang mau mendengar. Gelar akademik bertambah, publikasi ilmiah berlipat, teknologi mampu menjawab hampir semua pertanyaan dalam hitungan detik. Anehnya, bersamaan dengan itu, kerendahan hati justru menjadi barang yang semakin langka.

Padahal, tradisi keilmuan Islam meletakkan pelajaran pertama bukan pada teori yang rumit, melainkan pada adab. Coba kita perhatikan kalimat yang paling sering diucapkan seorang Muslim: Bismillāhirrahmānirrahīm. Hampir semua aktivitas diawali dengannya. Akan tetapi, sedikit yang berhenti untuk bertanya mengapa Basmalah justru dimulai dengan huruf bā`, bukan huruf yang lain.

Dalam disiplin bahasa Arab, para ahli nahwu menjelaskan bahwa huruf bā` pada Bismillah menunjukkan makna memohon pertolongan (isti`ānah) atau menyertakan Allah dalam setiap pekerjaan (muṣāḥabah). Artinya, sejak kalimat pertama seorang hamba sudah diingatkan bahwa tidak ada daya dan keberhasilan yang lahir dari dirinya sendiri.

Namun para sufi membaca lapisan makna yang lebih dalam.Mereka tidak berhenti pada fungsi gramatikal. Bentuk huruf pun dijadikan cermin untuk mendidik jiwa.

Huruf bā` membentang rendah. Titiknya berada di bawah, bukan di atas. Dalam khazanah tasawuf, posisi itu dipahami sebagai isyarat kerendahan hati. Seolah-olah ilmu hanya akan menetap pada hati yang bersedia merendahkan dirinya. Pembacaan semacam ini dapat ditemukan dalam karya-karya yang membahas simbolisme huruf, termasuk tradisi yang dinisbahkan kepada al-Shiblī, dibahas oleh al-Ghazali, dan dikembangkan lebih jauh oleh Ibn `Arabi.

Pesan itu terasa sangat relevan dengan wajah pendidikan kita hari ini. Mahasiswa ingin cepat menjadi pakar sebelum selesai menjadi murid. Orang ingin viral sebelum benar-benar memahami. Banyak yang sibuk mengutip, tetapi malas membaca. Lebih senang memenangkan perdebatan daripada memperdalam pengetahuan.

Ironisnya, kemajuan teknologi justru memperbesar godaan itu. Kecerdasan buatan dapat membantu menyusun tulisan, merangkum buku, bahkan menjawab soal-soal akademik. Teknologi jelas membawa manfaat besar. Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa dipinjam dari mesin: kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita masih harus belajar.

Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian. Pendidikan modern berlomba menghasilkan manusia yang kompetitif, tetapi kurang memberi ruang untuk melatih ketawadukan. Padahal sejarah menunjukkan bahwa para ulama besar justru dikenal karena kerendahan hatinya. Semakin luas ilmu mereka, semakin hati-hati lisannya. Semakin tinggi kedudukannya, semakin ringan mereka mengatakan, "Saya belum tahu."

Budaya akademik semestinya dibangun di atas kesadaran bahwa ilmu bukan alat untuk meninggikan diri. Ia adalah amanah. Ketika ilmu berubah menjadi panggung untuk mencari pengakuan, maka yang tumbuh bukan kebijaksanaan, melainkan kesombongan intelektual.

Mungkin karena itulah Basmalah tidak diawali dengan huruf yang melambangkan ketinggian, melainkan dengan huruf yang mengajarkan ketergantungan kepada Allah dan kerendahan seorang hamba. Pesannya sederhana, tetapi sangat mendasar: sebelum memenuhi kepala dengan pengetahuan, tundukkan lebih dahulu hati.


*Kheryadi merupakan pengamatan pendidikan dan dosen Pascasarjana UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten



Reporter : Redaksi
Redaktur : Redaksi