Menkomdigi Meutya Dorong Anak Perempuan Harus Punya Akses Setara ke Teknologi

Senin, 09 Februari 2026 10:31 WIB
Meutya Hafid (Menteri Komunikasi dan Digital/Komdigi). (Foto: Kemenkomdigi)
Meutya Hafid (Menteri Komunikasi dan Digital/Komdigi). (Foto: Kemenkomdigi)

RADARBANGSA.COM - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa peningkatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi bukan sekadar isu kesetaraan, tetapi kunci pertumbuhan ekonomi digital Indonesia di masa depan.

Indonesia diproyeksikan membutuhkan 12 juta talenta digital pada 2030, sementara saat ini masih terdapat kekurangan sekitar 3 juta talenta. Menurut Meutya, tantangan tersebut tidak akan teratasi tanpa membuka akses yang lebih luas dan adil bagi anak perempuan untuk belajar, tumbuh, dan berkarier di bidang teknologi.

"Indonesia diproyeksikan membutuhkan 12 juta talenta digital pada 2030. Tantangannya bukan hanya soal jumlah, tetapi soal akses yang setara bagi anak perempuan untuk terlibat dan tumbuh di dalamnya," ujar Menkomdigi Meutya Hafid dalam acara AWS Girls` Tech Day di Bekasi, Sabtu (7/2/2026).

Menkomdigi menyoroti fenomena leaky pipeline atau berkurangnya jumlah perempuan yang berkarier di sektor teknologi.

Data menunjukkan partisipasi perempuan dalam pelatihan digital mencapai 36 persen.

Namun, hanya sekitar 17 persen yang benar-benar melanjutkan karier profesional di bidang teknologi.

"Di Indonesia, peran teknis mendalam seperti AI dan engineering baru melibatkan sekitar 15 hingga 18 persen perempuan. Kita harus memastikan akses digital berkembang menjadi keterampilan dan peluang kerja nyata," tegasnya dikutip dari laman resmi, Senin (9/2/2026).

Visi kementerian melalui slogan "Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga" menjadi fondasi untuk mengatasi masalah ini. Terhubung berarti membuka akses pengetahuan bagi anak perempuan, Tumbuh berarti mengembangkan talenta, serta Terjaga berarti menciptakan ruang digital yang aman dan inklusif.

Meutya menjelaskan bahwa faktor struktural sering kali menghambat perempuan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Stereotip gender, kurangnya rasa aman, hingga minimnya role model menjadi penyebab utama.

Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen menjaga ruang digital agar tetap ramah bagi perempuan dan anak. "Jangan takut mencoba teknologi dan jangan takut salah. Masa depan digital Indonesia membutuhkan kreativitas, empati, dan keberanian kalian," pesannya.



Reporter : Neli Elislah
Redaktur : M. Isa