RADARBANGSA.COM - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi puas hanya menjadi pasar besar ekonomi digital.
Indonesia harus naik kelas menjadi pencipta dan pemilik nilai, sehingga pertumbuhan digital benar-benar mensejahterakan masyarakat dan memperkuat ekonomi nasional.
Dengan nilai ekonomi digital mencapai US$100 miliar — terbesar di ASEAN — dan diproyeksikan melonjak hingga US$360 miliar pada 2030, Indonesia kini berada di titik krusial untuk mengubah potensi luar biasa ini menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan.
“Menghubungkan masyarakat adalah bagian yang cukup mudah. Justru bagian yang jauh lebih sulit dan jauh lebih berharga adalah menghubungkan sistem kita serta mengubah seluruh pertumbuhan itu menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Inilah babak ketika Asia Tenggara tidak mau hanya menjadi pasar namun juga turut membentuk ekonomi digital dunia,” tegas Meutya Hafid dikutip dari laman resmi, Kamis (18/6).
Meutya menjelaskan, Indonesia memiliki segala modal untuk menjadi penggerak utama kawasan. Dengan 281 juta penduduk (hampir 40 persen populasi ASEAN), 220 juta pengguna internet, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta investasi asing langsung mencapai US$55 miliar tahun lalu, Indonesia siap memimpin.
“Indonesia telah menjadi ekonomi digital terbesar di ASEAN dengan nilai sekitar US$100 miliar atau hampir sepertiga dari total kawasan. Namun, besarnya angka tidak otomatis berarti kekuatan yang sesungguhnya,” ujarnya.
Oleh karena itu, Indonesia mendorong strategi retensi nilai agar manfaat ekonomi digital lebih banyak tinggal dan beredar di dalam negeri. Teknologi digital harus meningkatkan produktivitas dan memberikan akses pasar yang lebih luas bagi UMKM, nelayan, petani, serta pelaku usaha kecil.