Gus Muhaimin Resmi Usulkan NU-Muhammadiyah Raih Nobel Perdamaian Dunia

| Rabu, 16/02/2022 16:56 WIB
Gus Muhaimin Resmi Usulkan NU-Muhammadiyah Raih Nobel Perdamaian Dunia Abdul Muhaimin Iskandar (Wakil Ketua DPR RI). (Foto: Radarbangsacom)

RADARBANGSA.COM - Wakil Ketua DPR RI, Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin secara resmi mengajukan nominasi Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai wakil Indonesia untuk penerima Hadiah Nobel Perdamaian Dunia 2022 atau 2023.

“Hari ini secara resmi saya sampaikan, bahwa untuk tahun ini saya sebagai Wakil Ketua DPR RI akan mengajukan NU dan Muhammadiyah untuk sebagai dua lembaga yang resmi dan besar bisa menerima hadiah Nobel,” kata Gus Muhaimim saat konferensi pers di gedung DPR RI, Jakarta Selatan, Rabu, 16 Februari 2022.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menyatakan, NU-Muhammadiyah tersebut terbukti mengukir prestasi dan jasa besar bagi perdamaian di Indonesia dan dunia. Menurut dia, Indonesia yang damai, toleran dan bersatu hanya bisa terjadi berkat peran aktif dan sumbangsih NU-Muhammadiyah.

“Dengan ajaran Islam yang rukun dan welas asih, maka NU-Muhammadiyah telah merajut dan merawat kompatibilitas antara Islam dan demokrasi, perdamaian, pencegahan konflik dan kebebasan beragama dan berkeyakinan,” ungkapnya.

Berkat NU-Muhammadiyah juga, imbuh keponakan Presiden ke-IV RI KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Indonesia dapat menjadi contoh negara dengan penduduk muslim terbesar dan menjalankan sistem demokrasi dan negara yang stabil dan aman.

Gus Muhaimin menambahkan, NU-Muhammadiyah telah bertahun-tahun aktif berkontribusi melakukan upaya-upaya perdamaian, bantuan kemanusiaan dan advokasi secara internasional untuk membuat dunia lebih damai seperti, membela dan memulihkan hak-hak kaum minoritas.

“NU melalui Gus Dur memulai World Conference on Religion and Peace (WCRP). NU juga telah hadir mengupayakan penyelesaian konflik di Israel-Palestina dan Afghanistan. NU juga mempelopori International Conference of Islamic Scholars (ICIS), International Summit of Moderate Islamic Leaders (ISMIL),” paparnya.

Pun demikian dengan Muhammadiyah. Gus Muhaimin menyatakan organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan itu juga telah bertahun-tahun aktif menjadi anggota International Counter Group (ICG) dan Center for Dialogue and Coorporation among Civilisations (CDCC).

“Muhammadiyah telah bertahun-tahun berperan aktif dalam resolusi konflik di berbagai negara seperti konflik Moro dengan Pemerintah Filipina, Afrika Tengah dan berbagai gerakan kemanusiaan lainnya seperti di Nigeria, Thailand, Myanmar dan Palestina,” ujarnya.

Lebih dari itu, Gus Muhaimin menyebut NU-Muhammadiyah telah berjasa dan memainkan andil besar dalam memajukan dan mewujudkan narasi dan praktik Islam damai, Islam toleran (Islam Rahmatan Lil alamin dan Islam Washathiyah) tidak saja di tingkat Indonesia tetapi juga di tingkat global dalam berbagai forum internasional dan lembaga pendidikan Internasional.

“Dalam berbagai bentuk dan kegiatan, NU-Muhammadiyah telah memberi pengertian, memberi contoh, dan menularkan ajaran, nilai-nilai, dan praktik Islam damai dan Islam toleran kepada para warga negara, sarjana, pemuka agama dan pengambil kebijakan di negara-negara muslim termasuk di Pakistan, Afganistan, Tunisia, Malaysia dan lainnya. Termasuk di dalamnya ajaran tentang hak-hak perempuan dan keseteraan kaum perempuan,” tukas Gus Muhaimin.

Berangkat dari hal itu, Gus Muhaimin mengaku akan mengambil langkah-langkah, antara lain membentuk tim teknis untuk menulis surat pencalonan resmi dan mengirimkannya kepada panitia. Ia juga akan meminta Presiden Joko Widodo memberikan surat dukungan resmi terkait pencalonan tersebut.

“Sebagai Presiden RI, Bapak Jokowi juga sangat berhak mengajukan pencalonan dan atau memberikan dukungan kepada nominasi. Kami juga akan bertemu dengan Dubes Norwegia di Jakarta untuk menyerahkan surat pencalonan, juga akan menemui dan berdialog dengan Ketua Parlemen Norwegia di Oslo untuk menyerahkan surat pencalonan itu,” pungkas Gus Muhaimin.

Tags : Gus Muhaimin , NU , Muhammadiyah , DPR RI , Nobel