Ocean Day Momentum Kembalikan Kebijakan Kelautan dan Perikanan ke Pemda

| Selasa, 09/06/2020 15:59 WIB
Ocean Day Momentum Kembalikan Kebijakan Kelautan dan Perikanan ke Pemda Billy Ariez (kedua dari kanan) saat berdiskusi lingkungan di Lamongan (foto: Istimewa)

Oleh: Billy Ariez*

RADARBANGSA.COM - Sejarah world ocean day pertama pada diadakan tahun 1992 oleh Kanada pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brasil. Hari peringatan ini kemudian disahkan oleh PBB pada akhir tahun 2008. Sejak tahun 2003, The Ocean Project telah mengoordinasikan hari peringatan ini dengan mengumpulkan para peserta setiap tahun.

INDONESIA menyatakan dukungannya pada COP 24 yang lalu untuk menurunkan emisi karbon dari laut atau Blue COP untuk menahan suhu tidak lebih dari 1,5 derajat celcius. Peran penting Indonesia diharapkan komunitas internasional karena memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia di dunia 99.093 kilo meter dan negara kepulauan terbesar.

Laut menjadi perhatian dunia karena memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Pak Jokowi menyampaikan di awal 2020 potensi kelautan yang mencapai Rp15.000 triliun per tahun. sektor kelautan kita hanya menyumbang di bawah 30% dan sektor perikanan hanya menyumbang sekitar 3% dari PDB nasional. Angka ini relatif kecil dibandingkan dengan potensi yang berada di sepanjang garis pantai Indonesia.

Namun, Jika dibandingkan sumbangan sektor kelautan sejumlah negara, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok mencapai 48,5% bagi PDB nasionalnya. Negara anggota Asean seperti Vietnam, sektor kelautannya mampu menyumbang 57,63% terhadap total PDB. Bahkan, sejumlah negara di Eropa memiliki kontribusi sektor kelautan hampir 60% dari PDB.

Sektor Pemanasan global atau kenaikan emisi penyumbang terbesar adalah energi, kehutanan, pertanian dan lahan, limbah/termasuk limbah rumah tangga, sampah dan lain-lain.

Indonesia adalah salah satu negara yang punya masalah besar dalam pengelolaan sampahnya. Selain Indonesia, negara-negara di kawasan Asia Timur dan tenggara, terutama China.

Tak beres dikelola di darat, banyak sampah plastik akhirnya meluncur ke lautan. Sampah-sampah ini tentu saja membahayakan hewan laut dan ekosistem secara keseluruhan.

Indonesia berada di nomor dua sebagai penyumbang sampah plastik ke lautan di dunia. China menghasilkan jumlah sampah terbesar di laut, yaitu 262,9 juta ton sampah. Selanjutnya ada Indonesia (187,2 juta ton), Data Bank Dunia menunjukkan bahwa kota-kota di Indonesia, khususnya wilayah pesisir, menyumbang sekitar 3,22 juta ton berbagai macam sampah ke lautan, termasuk sampah plastik.

Pandemi COVID-19 mengubah banyak hal. Tidak terkecuali juga nasib para nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN), Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Dampak pandemi COVID-19 yang paling dirasakan nelayan yaitu harga ikan yang turun drastis mencapai 50 persen. Hal ini tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan saat melaut.

Produksi perikanan di Kabupaten Lamongan berdasarkan data dari setiap pelabuhan pelelangan ikan di Kabupaten Lamongan menunjukkan bahwa produksi ikan paling besar yaitu di pelabuhan pelelangan ikan wilayah Brondong (Blimbing) sebesar 67.615,40 tom

Peranan sektoral terhadap pembentukan PDRB menurut lapangan usaha tahun 2018 menunjukkan proporsi terbesar pada kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan, yaitu sebesar 35,18 persen.

Tujuan pengelolaan laut: membangkitkan industri perikanan, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah, meningkatkan devisa perikanan, optimalisasi sektor budi daya perikanan dan optimalisasi perikanan tangkap
Sektor nelayan menyerap 48.834 lebih. Perikanan 13.000

Selain itu Laut yang terjaga akan memotong biaya produksi nelayan, karena biayanya lebih murah. Karena ikan ikan akan tingga dierah yang banyak menyimpan potensi manakan.

Hasil tangkapan ikan laut tahun 2018 74.818 ribu ton. Naik 1000 ton jika dibanding tahun sebelumnya. Sementara ikan budidaya 54.146 ton pada tahun 2018. Naik hampir 2000 ton dibanding tahun sebelumnya.

Namun industri pengolahan ikan yang ada di lamongan semuanya industri katagori kecil dan rumahan. Pengeringan, pemindangan, pengasapan, petis, terasi, bakso, krupuk ikan, presto yang pekerjanya kurang dari 20 orang/industri. Satu satunya industri yang bekerjanya lebih daei 20 orang adalah pengelola cold storage.

Beberapa solusi:
1. Bangun dan didirikan pabrik/industri pengolahan ikan di lamongan. Jangan semuanya di singapore. Berikan insentif untuk pajak atau ajak membuat holding / perusahaan bersama. Sahamnya swasta BUMD dan BUMDES seumpama.
2. Eksport ikannya jangan bahan mentah tapi bahan semi jadi. Biar ada keuntungan ekonomi.
3. Undang-undang No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yang antara lain mengatur perluasan kewenangan provinsi di sektor kelautan mulai berlaku efektif sejak tahun 2017 selauaknya direvisi. Jika semula kewenangan provinsi dari 4-12 mil kini diperluas menjadi 0-12 mil. Salah satu implikasi dari kebijakan ini adalah semakin sulitnya pengawasan di laut. Idealnya di pantai dengan jarak 0-4 mil kewenangannya di pihak kabupaten/kota. Sedangkan 4-12 Mil pemerintah propinsi.

*Billy Ariez merupakan pemerhati lingkungan dan Direktur Radesa Institute

Tags : Lingkungan , Hari Laut Sedunia , Laut , Perikanan

Berita Terkait