Libas 1100 KM, Petani Simalingkar Lanjut Jalan Kaki ke Istana Demi Keadilan

| Senin, 27/07/2020 12:13 WIB
Libas 1100 KM, Petani Simalingkar Lanjut Jalan Kaki ke Istana Demi Keadilan Petani Simalingkar jalan kaki melintasi Jembatan Ampera Palembang menuju Istana Negara, Jakarta (foto istimewa)

PALEMBANG, RADARBANGSA.COM - Aksi jalan kaki perwakilan petani yang tergabung dalam Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) dari Medan menuju Istana Negara, Jakarta terus dilakukan hingga hari ini, Senin, 27 Juli 2020.

Mereka sudah 32 hari menggelar aksi jalan kaki dan tiba di Kota Palembang, Sumatera Selatan pada Sabtu, 25 Juli 2020 yang lalu. Setelah beristirahat 2 malam di kantor PWNU Kota Palembang, pagi ini mereka kembali melanjutkan perjalannya.

“Pagi ini mereka dilepas oleh para pengurus PWNU palembang, serta doa para Kiai menyertai perjalanan perjuangan petani ini, dan tadi malam pun mereka juga mengadakan doa bersama yang dipimpin oleh para Kiai NU di Kota Palembang ini,” kata kata koordinator aksi, Aris Wiyono.

“Dan terlihat pagi hari ini mereka sudah berada di atas jembatan Ampera Kota Palembang dan terlihat bugar dan tidak ada tanda-tanda lelah dimata mereka. Kita akan terus bergerak maju menuju masa depan baru,” imbuh Aris.

Aris yang juga Pembina SPSB sekaligus Ketua Bidang Pengorganisasian/Kaderisasi DPN Gerbang Tani itu menyatakan, masa depan petani adalah tanpa penjajahan dan penindasan. Mereka ingin masa depan yang adil dan beradab.

“Mereka ingin masa depan yang penuh keadilan sosial bagi seluruh petani dan rakyat indonesia. Dan terlihat mereka dikawal terus oleh Walhi, KPA dan NU Palembang sampai dengan perbatasan,” tutur Aris.

Aris menambahkan, selama 32 hari aksi, mereka sudah menempuh hampir 1100 kilometer. Namun pemerintah daerah dan aparat kepolisian serta perusahan plat merah PTPN II Tanjung Morawa, Sumatera Utara sama sekali tak menunjukan itikad baik kepada mereka.

“PTPN II tetap dan kekeh pada pendiriannya dan terus menerus meneror petani Simalingkar di lokasi dengan surat somasi kepada petani dan ancaman-ancaman melalui preman dan juga dgan cara-cara yang lain agar petani segera mengosongkan rumah dan ambil uang kerohiman,” ungkap Aris.

Namun, Aris memastikan petani yang sedang jalan kaki mencari keadialan dan petani yang saat ini di lokasi pertanian sudah sepakat membubarkan PTPN II dan menolak segala bentuk intimidasi.

“Mereka sepakat mengusir PTPN II dari lokasi tanah kami adalah harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sudah cukup penderitaan kami dijajah oleh PTPN II sejak tahun 1971 hinggga dengan saat ini. Cukup kami yang merasakan penderitaan ini tidak untuk anak cucu kami ke depan,” pungkas Aris.

Tags : Simalingkar , PTPN II , Petani