Salafiyah Modern: Potret Asshiddiqiyah 10 Cianjur

| Selasa, 02/01/2024 18:57 WIB
Salafiyah Modern: Potret Asshiddiqiyah 10 Cianjur Asshiddiqiyah 10 Cianjur (foto: istimewa)

OLEH: MUHAMMAD AQIL MIRZA

RADARBANGSA.COM - Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia. Pembelajaran pesantren pertama kali dipraktekan di Indonesia adalah ketika datangnya wali songo ke tanah jawa. Wali songo mengajak para penduduk desa untuk belajar agama islam di sebuah masjid dengan metode metode yang disukai oleh para penduduk desa. Singkatnya penduduk desa mulai menyebarkan agama islam menggunakan cara yang sama dengan apa yang dilakukan oleh wali songo tak lama kemudian pembelajaran pesantren mulai dipraktekan hampir di seluruh pulau jawa dari timur hingga barat. Karena banyaknya para santri yang berkumpul untuk belajar agama, maka didirikanlah lembaga pesantren secara resmi. Hingga sekarang banyak sekali pesantren yang ada di seluruh indonesia.

Banyaknya pesantren di indonesia tentunya memberikan berbagai macam warna pembelajaran yang berbeda beda. Beberapa pesantren mengunggulkan bahasa, beberapa yang lain mengutamakan pembelajaran kitab kuning gundul. Kitab kuning gundul merupakan sebuah karya tulis para ulama ulama islam baik dari dalam maupun luar negeri yang ditulis menggunakan bahasa arab, kitab kuning sendiri mempunyai pembahasan yang luas dan cabang ilmu yang bermacam macam mulai dari sesuatu yang berkaitan dengan perilaku manusia hingga pada pemaknaan zat Allah SWT. Karena kompleksnya kitab kuning gundul tentunya melahirkan metode pembelajaran yang berbeda beda. Namun, pada dasarnya kurikulum pembelajaran pesantren ada tiga macam yaitu  Salafiyah, Modern, dan Salafiyah Modern.

Perbedaan mendasar dari ketiga macam tersebut adalah metode pembelajarannya. Pesantren Salafiyah mengutamakan pembelajaran kitab kuning dan menggunakan metode tradisional seperti sorogan, bandongan, diniyyah atau hafalan sehingga para santri difokuskan untuk mempelajari hal hal yang ada di dalam kitab kuning gundul seperti tatanan bahasa, harakat atau huruf dalam bahasa arab lalu mendiskusikan fatwa - fatwa atau hal - hal yang tertulis di dalam kitab kuning gundul. Pembelajaran salafiyah menyebabkan kebanyakan santri salafiyah tidak mengenyam pendidikan sekolah konvensional seperti SMP, SMK / SMA, mereka difokuskan hanya untuk mempelajari ilmu ilmu yang ada di dalam kitab kuning gundul dari bangun tidur hingga tidur lagi

Pesantren Modern sendiri memiliki warna yang berbeda dengan pesantren salafiyah, pesantren modern lebih memfokuskan para santri kepada bahasa arab maupun bahasa inggris sehingga para santri setiap harinya diwajibkan menggunakan bahasa arab ataupun bahasa inggris dimanapun dan kapanpun tanpa terkecuali dan juga sangat lebih disiplin kepada profile santri seperti dari cara berpakaian, berteman, dan berbahasa. Berbeda juga dengan salafiyah yang tidak mengenyam bangku pendidikan, di pesantren modern para santri mengenyam bangku pendidikan seperti siswa pada umumnya. Meskipun begitu pembelajaran kitab kuning tetap dilaksanakan namun tidak begitu mendalam seperti pesantren salafiyah, santri modern belajar hal hal mendasarnya saja sebagian belajar menggunakan kitab kuning dan sebagian lagi dari ensiklopedia.

Perbedaan antara pesantren salafiyah dan pesantren modern menghasilkan gap yang cukup besar di antara para santri. Santri salafiyah suka merasa minder kepada santri modern karena istilah istilah yang digunakan berbeda meski memiliki makna yang sama dan banyak hal-hal lain yang membuat perbedaan mereka besar, maka dari itu muncullah kurikulum pesantren baru yaitu Salafiyah Modern. Kurikulum ini adalah gabungan dari kurikulum Salafiyah dan kurikulum Modern.

Kurikulum Salafiyah Modern sudah lama diterapkan di berbagai pesantren di seluruh indonesia karena tidak hanya memfokuskan ke satu hal seperti Salafiyah dan Modern melainkan memfokuskan keduanya sehingga para santri tetap melaksanakan sorogan, bandongan, diniyah atau hafalan seperti umumnya pesantren salafiyah dan juga tetap menjalani bangku pendidikan seperti umumnya pesantren modern bahkan beberapa pesantren salafiyah modern juga mendirikan kampusnya sendiri sehingga para santri tidak kebingungan untuk melanjutkan bangku pendidikannya dengan sembari melakukan kegiatan seperti pada umumnya santri pesantren.

Salah satu contoh pondok pesantren salafiyah modern adalah pondok pesantren Asshiddiqiyah 10 Cianjur yang berada di kecamatan sukaresmi kabupaten cianjur dan hanya berjarak dua kilometer dari taman bunga nasional cipanas. Pesantren yang didirikan pada tanggal 11 januari 2011 ini adalah salah satu pesantren salafiyah modern yang berada di daerah cianjur. Pesantren ini juga merupakan cabang kesepuluh dari pesantren asshiddiqiyah yang berada di kebon jeruk jakarta. Pesantren Asshiddiqiyah diasuh oleh KH. Muhammad RIza Azizy Hisyam M. Ieb

Kegiatan di pesantren Asshiddiqiyah 10 ini dimulai dengan tahajud bersama dan istighosah wirdul lathif bersama hingga subuh setelah melaksanakan sholat subuh, para santri melaksanakan pengajian bandongan kitab Tafsir Jalalain bersama pengasuh yayasan hingga terbitnya waktu dhuha lalu dilanjutkan dengan sarapan dan bersiap sekolah formal. Sekolah formal dilaksanakan mulai dari jam 7:15 WIB hingga jam 12:00 WIB seperti pada umumnya sekolah formal lainnya. Sepulang dari sekolah para santri langsung menuju masjid untuk melaksanakan sholat dzuhur berjamaah lalu dilanjut pembelajaran bahasa arab atau bahasa inggris sesuai jadwal lantas para santri kembali ke asrama masing masing untuk makan siang dan istirahat. Pukul tiga siang para santri kembali menuju ke gedung sekolah untuk memulai sekolah diniyah sesuai dengan kelasnya masing masing. Sekolah diniyah dibagi menjadi dua jam pelajaran yang dipisahkan oleh sholat ashar setelah sholat ashar selesai para santri kembali menuju masjid untuk melaksanakan istighosah rotibul haddad lantas dilanjutkan dengan makan sore dan bersiap - siap sholat maghrib. Setelah sholat maghrib selesai para santri menuju kelompok ngaji Al Qur’an sesuai jilid masing masing. Pembelajaran Al Qur’an sendiri menggunakan metode Yanbu’a yang disusun oleh pengasuh Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an, diantaranya oleh KH. M. ulin Nuha Arwani, KH. M. Manshur Maskan, dan KH. M. Ulil Albab Arwani. Ketika kumandang sholat isya’ tiba para santri menyelesaikan ngaji Al Qur’an untuk melaksanakan sholat isya, setelah itu dilanjutkan pengajian takror sesuai dengan kelas diniyahnya masing masing hingga pukul 22:00 WIB para santri sudah harus diwajibkan untuk tidur karena semua kegiatan pesantren sudah selesai dan akan dilanjutkan esok hari.

Selain kegiatan tersebut ada kegiatan mingguan seperti Syawir (diskusi kitab kuning) dan Lalaran setiap malam senin, Muhadhoroh (ceramah) setiap malam jum’at, senam pagi dan gotong royong sekitar pesantren setiap hari minggu dan juga ada kegiatan bulanan seperti Majelis Dzikir dan Muhadhoroh Kubro. Tak lupa pula, sekolah diniyah menerapkan sistem hafalan nadzom yang berbeda beda setiap kelasnya seperti Nadzom Aqidatul Awam, Jurumiyah, Tasrif Lughowi, Nadzom Imrithi, Nadzom Alfiyah, dan masih banyak lagi, hafalan nadzom ini merupakan syarat untuk naik kelas. Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang setara dengan SMP dan SMA menerapkan pembelajaran menggunakan kitab kuning gundul pada beberapa pelajaran untuk mendukung pemahaman para santri. Tentunya ada lembaga tahfidz Al Qur’an namun lembaga ini hanya ada untuk santri putri, untuk santri putra sendiri lebih difokuskan untuk mendalami kitab kuning gundul Peraturan peraturan yang diterapkan juga ketat seperti pesantren modern contohnya dilarang merokok, dilarang menggunakan smartphone atau semacamnya, diaturnya potongan rambut bagi santri putra dan cara berpakaian.

Pesantren Asshiddiqiyah 10 Cianjur adalah implementasi yang cukup sempurna dari kurikulum salafiyah modern, bisa kita lihat dari kegiatan dan metode pembelajarannya yang dapat menyeimbangkan dan memaksimalkan kedua kurikulum salafiyah dan modern. Meskipun begitu selalu ada kekurangan dalam hal yang dibuat oleh manusia, kurikulum salafiyah modern bisa disebut kurikulum yang ngambang dan nanggung karena berada di tengah tengah antara salafiyah dan modern dan tidak memiliki warna yang kuat berbeda dengan salafiyah yang kuat dengan pembelajaran kitab kuningnya atau modern yang kuat dengan pembelajaran bahasanya, salafiyah modern tidak memiliki warna yang kuat karena apa yang diajarkan dan bagaimana cara mengajarkan sama dengan pesantren salafiyah atau pesantren modern.

Karena hal tersebut muncullah pertanyaan ‘lantas, mana yang terbaik bagi anak yang hendak mondok di pesantren?’ maka jawabannya tidak ada yang terbaik semua tergantung dengan kemampuan anak. “Jangan suruh ikan untuk terbang dan jangan suruh burung untuk berenang. Mau itu di pesantren salafiyah atau modern atau salafiyah modern semuanya adalah yang terbaik semuanya kembali lagi ke anak. Dia bisanya apa? Dia maunya bagaimana? Karena pesantren di indonesia memberikan warna yang berbeda dan indah yang dapat memaksimalkan dari potensi anak. Sing penting ngaji” ucap Ustad Nurhadi yang merupakan kepala Madrasah Diniyah Manba’ul Ulum Asshiddiqiyah 10 CIanjur.

Mana yang baik mana yang buruk bukan kita yang menentukan hanya Allah SWT yang berhak untuk melakukannya. Pesantren di indonesia sangat bermacam macam warnanya dan itulah yang membuat pesantren di indonesia menjadi lebih indah. Baik itu salafiyah, modern, atau salafiyah modern semuanya memiliki kurang dan lebihnya masing masing semuanya kembali ke kita, mana yang sekiranya terbaik bagi kita dan mana yang sekiranya buruk bagi kita.

Tags : Pondok pesantren , Salafiyah , Modern , Salafiyah Modern

Berita Terkait