Asal Usul Peringatan Maulid Nabi Muhammad, Ini Penjelasan Ketum PBNU

| Jum'at, 22/11/2019 18:04 WIB
Asal Usul Peringatan Maulid Nabi Muhammad, Ini Penjelasan Ketum PBNU Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj menyampaikan tausiyah dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (21/11). (Foto: twitter @NU_Online)

JAKARTA, RADARBANGSA.COM - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan asal-usul peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, maulid nabi diadakan kalangan Syiah seorang oleh Al-Muiz, seorang Khalifah Fatimiyah pada tahun 601 H. Sementara dari kalangan Sunni pertama kali digelar oleh Syamsud Daulah dari Nidhamil di Irak.

“Al-Muiz yang membangun Kota Kairo. Gubernurnya bernama Jauhar Assoqli, yang membangun Al-Azhar yaitu Al-Muiz Al-Kohir li dinillah,” kata Kiai Said saat memberikan sambutan di Maulid Akbar dan Doa Bersama yang digelar LDNU di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Kamis, 21 November 2019 malam.

Kiai Said menjabarkan Maulid Nabi merupakan sunah taqririyyah yaitu perkataan, perbuatan yang tidak dilakukan nabi, tetapi dibenarkan Rasulullah SAW. Menurut dia, memuji atau mengagungkan Rasullah SAW termasuk sunnah taqririyah karena tidak pernah dilarang oleh Rasulullah.

Salah satu sahabat yang memuji-muji Nabi Muhammad adalah Ka’ab bin Juhair bin Abi Salma yang diceritakan dalam bait nadhom yang sangat panjang. Di hadapan Nabi Muhammad Ka’ab mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang hebat dan orang mulia.

Mendengar pujian itu nabi tidak melarang, bahkan membenarkan. “Malah Rasulullah memberi hadiah selimut yang sedang dipakai. Selimutnya bergaris-garis. Selimut garis-garis itu bahasa Arabnya adalah Burdah,” ucapnya.

Ia menyebut, sampai sat ini burdah Nabi Muhammad masih ada dan diabadikan di Museum Toqafi Istanbul Turki. Itulah mengapa setiap ada qasidah atau syair yang isinya memuji Nabi Muhammad disebut qasidtul burdah. 

Tags : Maulid Nabi , PBNU