Aksi Jalan Kaki Petani Simalingkar ke Istana Berlanjut, Kini Tiba di Labuhanbatu

| Sabtu, 04/07/2020 19:13 WIB
Aksi Jalan Kaki Petani Simalingkar ke Istana Berlanjut, Kini Tiba di Labuhanbatu Ratusan petani Simalingkar melanjutkan perjalanan menuju Istana Negara, Jakarta demi memperjuangkan hak atas tanah mereka (foto Gerbang Tani)

LABUHANBATU, RADARBANGSA.COM - Aksi jalan kaki 170 petani Desa Simalingkar A dan Desa Sei Mencirim Kabupaten Deliserdang menuju Istana Negara, Jakarta demi menuntut hak atas tanah hari ini memasuki hari ke 8, Sabtu, 4 Juli 2020.

Di hari ke 8 ini, mereka tiba di Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara dengan menempuh perjalanan 300 kilometer serta melalui 7 kabupaten/kota, mulai dari Medan-Labuhanbatu.

"Aksi jalan kaki menuju Istana Negara ini sudah 8 hari dan menempuh jarak 300 kilometer. Alhamdulilah, semua peserta masih sehat," sebut koordinator aksi, Aris Wiyono dalam keterangannya, Sabtu, 4 Juli 2020 sore.

Saat tiba di Rantauprapat, Jumat malam, mereka disambut di GOR oleh petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Labuhanbatu, pihak kepolisian dan Puskesmas.

Aris memerkirakan mereka akan tiba di Istana Negara pada 17 Agustus 2020. Selama dalam perjalanan belum ada kendala. Mereka sangat serius memperjuangkan tuntutannya, sebab sebagai petani juga ingin menikmati kemerdekaan.

Sebelumnya, aksi ini dilakukan usai areal lahan dan tempat tinggal yang telah dikelola dan tempati petani tersebut sejak tahun 1951 telah digusur paksa oleh korporasi plat merah bernama PTPN II.

Padahal mereka telah mengantongi SK Landreform sejak tahun 1984 dan parahnya sebanyak 36 petani di Sei Mencirim yang ikut tergusur sudah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM).

Luas area yang berkonflik antara petani yang tergabung dalam SPSB dengan PTPN II adalah seluas ± 854 Ha dan area petani yang tergabung STMB seluas ± 80 Ha.

Pada tahun 2017, petani yang menempati dan mengelola lahan/tanah sejak tahun 1951 dikejutkan dengan pemasangan plang oleh pihak PTPN II Deli Serdang yang tertulis Nomor Sertifikat Hak Guna Usaha No. 171/2009 di desa Simalingkar A.

Selanjutnya pihak PTPN II dikawal oleh ribuan aparat TNI & POLRI menggusur/mengkoupasi lahan-lahan pertanian masyarakat dan menghancurkan seluruh tanaman yang ada didalamnya.

Hal tersebut sontak memicu perlawanan dari masyarakat desa Simalingkar A, Desa Duren Tunggal dan Desa Namo Bintang, Kec. Pancur Batu, Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara hingga terjadi bentrokan antara masyarakat dengan aparat keamanan.

Puluhan petani terluka dan puluhan petani lainnya ditahan di polsek hingga Polres dan dibawa ke kantor Zipur (KODIM). Sampai saat ini, sebanyak 3 orang petani yakni Ardi Surbakti, Beni Karo-Karo dan Japetta Purba masih dikriminalisasi.

Tags : Simalingkar , PTPN II