Dicurhati Penyintas dan Korban Kekerasan Seksual, Gus Muhaimin Menangis

| Rabu, 26/01/2022 16:24 WIB
Dicurhati Penyintas dan Korban Kekerasan Seksual, Gus Muhaimin Menangis Wakil Ketua DPR RI, Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin mengunjungi Yayasan Gembala Baik, Jakarta, Rabu (26/1). (Foto: istimewa)

RADARBANGSA.COM - Wakil Ketua DPR RI bidang Korkesra, Abdul Muhaimin Iskandar tak kuasa menitikkan air mata setelah mendengar kisah para penyintas dan korban kekerasan dan pelecehan seksual yang berada di Yayasan Gembala Baik Jakarta, Rabu, 26 Januari 2022. Pria yang akrab disapa Gus Muhaimin itu berdialog dari hati ke hati dengan para penyintas, dan menyimak dengan serius semua kisah-kisah kekerasan dan pelecehan seksual yang mereka alami.

Menurut Gus Muhaimin, kasus kekerasan dan pelecehan seksual di Indonesia harus dihentikan mulai hari ini, mengingat jumlah kasusnya terus naik. Sehingga pengesahan RUU TPKS menjadi prioritas bagi bangsa ini.

“Saya memilih bersuara, kekerasan dan pelecehan seksual harus kita akhiri. Saya tidak sanggup mendengar kisah kawan-kawan penyintas. Ingatan yang justru ingin kawan-kawan lupakan. Saya pastikan RUU TPKS akan segera disahkan. Kita sudahi kasus-kasus banal seperti itu,” kata Gus Muhaimin dalam keterangannya, Rabu, 26 Januari 2022.

Di kesempatan yang sama, keponakan mantan Presiden ke-IV KH Abdurrahman Wahid itu meminta para penyintas untuk mengindentifikasi apa saja yang mereka harapkan dari pemerintah, supaya mereka dapat melanjutkan hidup dengan baik. Ia berjanji akan mendorong harapan tersebut dapat diwujdukan, dan berlaku untuk semua penyintas dan korban kekerasan dan pelecehan seksual di seluruh Indonesia.

“Saya datang ke sini tidak untuk memberikan nasihat, sebab bukan itu yang mereka butuhkan saat ini. Mereka harus melanjutkan hidup, dan kita pastikan kita ada di sisi mereka. Itu politik kesejahteraan yang saya maksud, bahwa tidak ada anak bangsa yang tercecer,” tegasnya.

Dalam dialog yang berlangsung selama satu jam tersebut, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini terlihat serius menyimak kisah-kisah para penyintas. Tanpa menyebutkan nama, alamat dan tempat tinggal saat ini, para penyintas terlihat nyaman mengisahkan kekerasan dan pelecehan seksual yang mereka alami,

“Kami butuh tempat untuk bercerita dengan nyaman. Kami butuh untuk didengar. Karena kami harus melupakan peristiwa yang justru selalu kami takutkan akan terjadi lagi,” kata Sari (nama samaran), salah seorang penyintas.

Gus Muhaimin hadir didampingi oleh Menaker Ida Fauziyah. Keduanya tampak menghapus air matanya mendengar kisah dari para penyintas. Sementara Menaker memastikan memberikan pelatihan dan sertifikasi kepada para penyintas dan korban kekerasan seksual dan pelecehan seksual, melalui skema kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan RI.

“Kemnaker siap memfasilitasi kegiatan pelatihan sesuai minat dan passion para penyintas. Saya menunggu identifikasi kebutuhan dari para pendamping agar segera kami daftarkan dalam program pelatihan kami. Juga dukungan untuk berwira usaha agar mandiri secara finansial,” demikian Menaker Ida.

Dalam kesempatan itu Gus Muhaimin dan Ida Fauziyah juga menyerahkan sumbangan berupa kebutuhan sehari-hari korban dan bantuan operasional bagi lembaga pendamping.

Tags : Gus Muhaimin , RUU TPKS , Kekerasan Seksual , Perempuan