Apakah Boleh Berniat Puasa Ramadan Sebulan Penuh?

| Selasa, 13/04/2021 17:03 WIB
Apakah Boleh Berniat Puasa Ramadan Sebulan Penuh? doc:istimewa

 

RADARBANGSA.COM - Para ulama empat mazhab semua berpendapat sama bahwa puasa di bulan Ramadan wajib di awali dengan membaca niat. Namun, mengenai teknis niatnya beberapa ulama memiliki pendapat yang berbeda. Ulama mazhab Malikiyyah berpendapat bahwa niat puasa di bulan Ramadan bisa di jamak, cukup di niatkan satu kali dan tidak diwajibkan mengulangi niat di hari berikutnya.

Beberapa masjid dan musala pada malam pertama bulan Ramadan biasanya di bimbing oleh tokoh masyarakat untuk besama-sama melasanakan niat puasa satu bulan sesuai dengan ulama mazhab Malikiyyah. Namun, membca niat sebulan penuh bukan berarti menyimpulkan tidak perlu untuk berniat puasa di hari berikutnya. Niat tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi jika pada kemudian hari lupa niat puasa. Sehingga puasa yang dilaksanakan tetap sah diteruskan karena telah di ucapkan selama satu bulan penuh sebelumnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri KH A Idris Marzuqi dalam karyanya Sabil al-Huda menegaskan:  

“Untuk berjaga-jaga agar puasa tetap sah ketika suatu saat lupa niat, sebaiknya pada hari pertama bulan Ramadan berniat taqlid (mengikut) pada Imam Malik yang memperbolehkan niat puasa Ramadan hanya pada permulaan saja. Dan adanya cara tersebut bukan berarti membuat kita tidak perlu lagi niat di setiap harinya, tetapi cukup hanya sebagai jalan keluar ketika benar-benar lupa,” (KH. A. Idris Marzuqi, Sabil al-Huda, hal. 51).

Di dalam kitab tersebut, KH A Idris Marzuqi juga mencontohkan lafal niatnya sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيْدًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

“Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadan tahun ini dengan mengikuti Imam Malik, fardu karena Allah” (terjemahan dari penulis).

Lantas bagaimana jika telah berniat satu bulan pernuh namun tidak bisa melaksanakan puasa Ramadan secara penuh karena memiliki uzur tertentu, seperti peremuan yang sedang menstruasi?

Para ahli fikih mazhab Malikiyyah menerangkan bahwa alasan dibalik dicukupkannya satu kali niat untuk puasa Ramadan satu bulan karena dihukumi satu kesatuan, sehingga niat di awal Ramadan sudah mencukupi untuk hari berikutnya. Karena umat Islam diwajibkan berpuasa tanpa ada jeda selama sebulan penuh.

Mazhab Maliki membedakan antara puasa yang wajib dilakukan secara berkelanjutan tanpa ada jeda, seperti Ramadan, dan jenis puasa yang tidak wajib dilakukan secara berkelanjutan, seperti kada puasa Ramadan. Puasa yang dilakukan secara terus-menerus tanpa ada jeda maka dihukumi satu kesatuan. Sedangkan jenis puasa yang diperbolehkan untuk memberi jeda waktu tidak berpuasa, tidak dihukumi satu kesatuan antara satu puasa dengan puasa yan lain. 

Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi, salah seorang pakar fikih mazhab Maliki menegaskan:

ـ (وكفت نية لما يجب تتابعه) اللخمي: أما ما تجب متابعته كرمضان وشهري الظهار وقتل النفس ومن نذر شيئا بعينه ومن نذر متابعة ما ليس بعينه فالنية في أوله لجميعه تجزئه.

“Dan cukup niat sekali untuk puasa yang wajib dilakukan secara terus-menerus. Imam al-Lakhmi mengatakan, Adapun puasa yang wajib dilakukan terus-menerus seperti Ramadan, dua bulan puasa Zihar, puasa denda pembunuhan, orang yang bernazar puasa pada hari tertentu, orang yang bernazar terus-menerus berpuasa yang tidak ditentukan harinya, maka niat di awal mencukupi untuk keseluruhannya.”

ابن رشد: وأما ما كان من الصيام يجوز تفريقه كقضاء رمضان وصيامه في السفر وكفارة اليمين وفدية الأذى فالأظهر من الخلاف إذا نوى متابعة ذلك أن تجزئه نية واحدة يكون حكمها باقيا وإن زال عينها ما لم يقطعها بنية الفطر عامدا، وأما ما لم ينو متابعته من ذلك فلا خلاف أن عليه تجديد النية لكل يوم.

“Ibnu Rusydi berkata, adapun puasa yang boleh dipisah seperti kada Ramadan, puasa Ramadan saat bepergian, denda sumpah, fidyah al-adza (denda bagi orang ihram yang melanggar keharaman saat ihram), maka pendapat yang jelas dari ikhtilaf ulama bahwa bila ia bermaksud melakukan puasa tersebut secara terus-menerus, maka mencukupi baginya satu niat, hukum satu niat tersebut akan menetap meski hilang sosoknya selama tidak diputus dengan niat berbuka puasa secara sengaja. Adapun orang yang tidak berniat melakukannya secara terus-menerus, maka tidak ada ikhtilaf bahwa ia berkewajiban untuk memperbarui niat di setiap harinya” (Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi al-Maliki, al-Taj wa al-Iklil, juz.3, hal. 338).

Berdasarkan referensi penjelasan di atas, maka diperbolehkan bagi seseorang yang baru bisa berpuasa pada hari kedua atau seterusnya untuk berniat puasa Ramadan sebulan, sesuai dengan tuntunan dalam mazhab Maliki. Karena tidak ada perbedaan antara niat sebulan berpuasa di awal Ramadan dan hari berikutnya. Pada hari keberapapun dilakukan maka tetap masuk dalam sebuah titik temu, sepanjang hari bulan Ramadhan dihukumi seperti satu kesatuan. Namun, niat satu bulan penuh tersebut bukan berarti melalaikan, niat yang harus di ucapkan tiapharinya. Niat satu bulan penuh mazhab Malikiyah hanya dicukupkan jika seseorang lupa niat.

 

Tags : Puasa , Ramadan , Niat