PKB, Cak Imin dan Periode Jokowi-Ma`ruf

| Rabu, 03/07/2019 19:15 WIB
PKB, Cak Imin dan Periode Jokowi-Ma`ruf Ketum DPP PKB A Muhaimin Iskandar mengajak seluruh Ketua DPW PKB bertemu Presiden Jokowi (foto: PKB)

RADARBANGSA.COM - Tanggal 20 Mei 2019 dini hari lalu KPU telah menetapkan hasil perhitungan suara Pemilu 2019,   lebih cepat dari rencana semula tanggal 22 Mei 2019. Penetapan itu dikuatkan melalui Keputusan Nomor 135/PL/KPU/V/2019 tentang Penetapan Presiden dan Wakil Presiden, DPR RI, DPRD Tahun 2019 sesuai dengan perolehan suara di 34 provinsi dan 130 Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN).

Berdasarkan hasil rekapitulasi KPU, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meraup suara 13.570.097 atau 9.69 persen dari total 139.971.260 suara sah nasional. Tak pelak PKB termasuk partai dengan peningkatan suara yang signifikan dibanding pemilu 2019 yang meraih 11.298.950 atau 9,04 persen dari 124.972.491 suara sah nasional.

Lebih dari itu, PKB menjadi partai yang naik peringkat menjadi urutan keempat dimana sebelumnya pada pemilu 2014 menduduki peringkat kelima. Hal ini tentu dibarengi dengan raihan kursi di parlemen yang signifikan mulai dari DPRD Kab/Kota, DPRD Provinsi dan DPR RI dibanding pemilu 2014.

Walhasil, perolehan suara PKB pada pemilu 2019 ini menjadi raihan paling tinggi sejak pertama kali menjadi peserta pemilu pada tahun 1999. Hal ini tentu menjadi prestasi terbaik PKB dalam lima kali keikutsertaan pemilu dan membangun demokrasi di Indonesia paska reformasi.

Mari kita bandingkan raihan suara PKB dari lima kali keikutsertaannya dalam pemilu. Pertama, pada Pemilu 1999 mencapai 13.336.982 atau 12,61% dari total suara sah 105.786.661 dengan diikuti 48 partai. Hanya 12 partai yang mendapatkan kursi di DPR, termasuk PKB yang meraih 51 kursi dari total 462 kursi DPR RI.

Kedua, Pemilu 2004. Perolehan suara PKB mengalami penurunan yakni 12.002.885 atau 10,61% dari 113.462.414 suara sah nasional dengan 24 partai peserta pemilu. Dari 16 partai peraih kursi di DPR RI dan dari total 550 kursi PKB berhasil meraih 52 kursi.

Ketiga, Pemilu 2009. Dari 38 partai politik peserta pemilu, PKB kembali mengalami penurunan raihan suara yakni hanya memperoleh 5.146.122 suara atau 4,94 persen dari total 104.099.785 suara sah nasional. Akibatnya PKB hanya peroleh 28 kursi dari total 560 kursi yang diperebutkan oleh 9 partai lolos parliamentary threshold dan berhak mendapat kursi di DPR kala itu.

Keempat, Pemilu 2014. Dari 12 partai peserta pemilu hanya 10 yang berhasil memenuhi ambang batas nasional 3,50%, PKB salah satunya. Dari total 124.972.491 suara sah nasional, PKB meraih 11.298.950 suara atau 9,04%. Peningkatan perolehan suara lebih dari 100 persen dari pemilu 2009 itu, PKB berhasil masuk lima besar dan berefek pada naiknya raihan kursi di DPR RI menjadi 47 dari total 560 kursi.

Kelima, Pemilu 2019. Untuk kali kedua perolehan suara PKB melonjak signifikan seperti yang penulis jelaskan diawal tulisan ini sekaligus mengulangi prestasi pada pemilu 2014. Bila tak aral melintang seiring dalam proses PHPU di Mahkamah Konstitusi, PKB akan mendapatkan 59 kursi dari 575 kursi di DPR RI. Bersama delapan partai lainnya, PKB berhasil lolos Parliamentary Threshold (PT) 4 persen dari jumlah 16 partai peserta pemilu.

Cak Imin Efek

Bak dirigen atau konduktor yang memimpin sebuah orkestra pertunjukan musik melalui komunikasi gerak isyarat, Cak Imin mampu mengelola nada, irama, volume suara, kecepatan, ketepatan, keindahan dan teknik sehingga menghasilkan harmoni musik yang nikmat didengarkan.

Sebagai dirigen, Cak Imin tentu memiliki sifat kewibawaan sebagai seorang pemimpin. Memimpin  jutaan kader bukan perkara sepele, untuk membuat mereka patuh terhadap aturan tehnis maupun "harmonisasi nada" dibutuhkan karakter pemimpin yang memotivasi dan menginspirasi mereka.

Sebagai dirigen, Cak Imin memiliki kemampuan mengorganisir semua stakeholder partai.  Kapan  waktunya lakukan latihan (kaderisasi), kapan melakukan sharing demi perkembangan PKB dan bagaimana cara menata "musik" sehingga ia bernilai seni tinggi dan tentu sangat layak dinikmati.

Semua kepekaan ini tentu beliau peroleh dari seabreg pengalamannya mulai dari keterlibatannya dalam pendirian PKB, menjadi pengurus DPP PKB bersama Gus Dur hingga dipercaya menahkodai kapal PKB yang terus beranjak besar sehingga mampu menerjang berbagai gelombang.

Pahit getirnya mengelola segala sumber daya PKB ditengah keterbatasannya hingga kini, tak berlebihan kiranya bila raihan suara PKB pada pemilu 2019 ini tak lepas dari "Cak Imin efek". Melalui tangan dinginnya, kini suara PKB nyaris merata diseluruh kepulauan di Indonesia, tidak lagi Jawa centris.

Penulis kira ada lima indikator penting yang membuat perolehan suara PKB terus meningkat pada pemilu 2014 dan 2019, khususnya di Jawa Barat yang naik 100 persen. Pertama, kepemimpinan Cak Imin mampu merajut segala perbedaan pandangan mulai dari hulu hingga hilir, internal dan eksternal sehingga harmonisasi PKB senantiasa terjaga. Wajar bila kini PKB menjadi partai berbasis masa Islam nomor wahid di negeri ini.

Kedua, sinergi antara PKB dan NU. Kemesraan PKB dan NU hingga kini berdampak positif pada bertambahnya ketertarikan pemilih Nahdliyin ke PKB pada pemilu 2014. Pada pemilu 2019, diusulkannya KH. Ma`ruf Amin menjadi Cawapres Jokowi oleh PKB  tentu  menambah gairah Nahdliyin milih PKB.

Ketiga, kesadaran Nahdliyin untuk ber-PKB sebagai satu-satunya partai politik yang dilahirkan oleh NU kian meninggi. Lalu, kesadaran praktek amalan Kaidah ushul Fiqh, al maslahah al `ammah muqaddamatun `ala al maslahah al khashah (kemaslahatan umum lebih di dahulukan daripada kemaslahatan individu) menjadi tali batin NU dengan PKB.

Keempat, kaderisasi yang masif mulai dari level pertama, menengah hingga nasional bangkitkan militansi kader. Melalui kepiawaian Cak Imin, kini PKB seamkin menunjukkan krakternya sebagai partai kader dan berbasis massa solid. Tidak hanya itu, mesin struktur kepengurusan PKB di setiap tingkatan yang bekerja maksimal ditambah kerja keras para calon legislatif disemua tingkatan.

Kelima, pengelolaan dan pemanfatan media sosial. Intruksi Cak Imin terhadap pengurus, kader dan simpatisan PKB untuk memanfaatkan jejaring media sosial: Facebook, Twitter, Instagram, YouTube dan yang lainnya ditengah mahalnya biaya publikasi ataU iklan di media mainstream menjadi salah satu indikator meningkatnya raihan suara PKB.

Momentum NU dan PKB

Naiknya perolehan suara dan kursi PKB pada pemilu 2019 ini ditambah pasangan Jokowi-KH. Ma`ruf Amin ditetapkan sebagai pemenang Pilpres oleh KPU pada tanggal 30 Juni yang lalu, dimana PKB sebagai pengusung pasangan Capres--Cawapres  itu merupakan sejarah baru bagi NU dan PKB.

Selain PKB berhasil meningkatkan raihan suara dan kursi di DPR RI, pada saat yang sama KH. Ma`ruf Amin sebagai tokoh kunci NU (mantan Rois `Am PBNU, Ketua Dewan Syuro PKB pertama) juga terpilih sebagai pendamping Jokowi untuk periode kedua.

`Ala kulli hal, periode Jokowi-KH. Ma`ruf Amin lima tahun kedepan merupakan momentum terbaik NU dan PKB untuk mengejawantahkan kaidah al maslahah al `ammah (kemaslahatan publik) wabilkhusus bagi warga Nahdliyin dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Ada tiga agenda politik PKB yang akhir-akhir ini sering Cak Imin lontarkan dalam berbagai kesempatan, yakni: pendidikan, pemberdayaan ekonomi dari usaha kecil menengah (UKM), dan kemajuan dakwah sosial dan budaya. Ketiganya menjadi ruh perjuangan PKB kedepan untuk NU dan bangsa Indonesia.

Pertama, Pendidikan. 13,5 juta pemilih PKB memiliki tingkat pendidikan yang masih rendah, pada saat yang sama 79,04 juta Nahdliyin (data alvara research, 2016) mengalami hal yang sama. PKB berkomitmen tinggi menjadikan pendidikan NU lebih maju dan bermutu, salah satunya telah menginisiasi lahirnya UU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan di DPR.

Kedua, pemberdayaan ekonomi dari usaha kecil menengah (UKM). Melalui PKB, Cak Imin berkomitmen menginisiasi lahirnya undang-undang pemberdayaan ekonomi dan usaha kecil menengah (UKM) yang implementasinya seperti dana desa sehingga berdampak terhadap meningkatnya pendapatan ekonomi masyarakat menengah ke bawah, wabilkhusus Nahdliyin.

Terakhir, kemajuan dakwah sosial dan budaya. Bagi Cak Imin kebudayaan adalah panglima untuk menata Indonesia yang lebih maju. Karena didalamnya terangkum keagamaan, ideologi, dakwah, dan seterusnya yang harus ditata dengan baik. Inilah yang menguatkan NU hingga bertahan dan berkembang hingga saat ini.

Selanjutnya, perhatian NU terhadap politik dimulai dari menjaga warga dan bangsa ini, mulai dari kesejahteraan hidup, menikmati hasil-hasil bumi dan laut hingga pendidikan dan pengajaran yang terjamin. Karenanya hubungan NU dengan politik ibarat teh dan gula, tidak bisa dipisahkan. Wajar bila dulu ada partai NU dan kini ada PKB.

Politik kebangsaan ala NU sejalan dengan politik PKB karena ia lahir dari rahim NU. Politik kebangsaan NU dan PKB dimulai dari praktek pertanggungjawaban keumatan dengan mewujudkan kemaslahatan publik demi tercapainya cita-cita kemerdekaan, kesejahteraan, keadilan, mencerdaskan kehidupan bangsa dan perdamaian dunia sesuai UUD 1945.

Sekali lagi, lima tahun kedepan adalah momentum tepat bagi PKB dan NU menguatkan sinergi menebar manfaat dan maslahat menuju kebangkitan bangsa Indonesia. Lebih dari itu NU dan PKB menjadi garda terdepan menangkal ideologi dari luar yang anti Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 (PBNU). Wallahu`alam bi ashowab.

Penulis: Usep Saiful Kamal

Tags : Cak Imin , PKB , NU ,