Amanat Rais `Aam PBNU Saat Silaturahmi dengan Nahdliyin Banten

| Selasa, 26/03/2019 21:13 WIB
Amanat Rais `Aam PBNU Saat Silaturahmi dengan Nahdliyin Banten KH Miftahul Achyar (Rais Aam PBNU). (Foto: timesindonesiacoid)

SERANG, RADARBANGSA.COM - Rais ‘Aam PBNU, KH Miftahul Achyar bersilaturahmi dengan para kiai kampung dan pengasuh pesantren dari tiga kabupaten dan kota, yaitu Kota Serang, Kabupaten Serang dan Kota Cilegon, Senin, 25 Maret 2019 pagi di gedung PWNU Banten. Tidak kurang dari 300 warga NU memadati aula utama PWNU Banten.

KH Miftahul Achyar hadir didampingi KH Nurul Yaqin dan KH Miftah Faqih (Katib PBNU). Sementara, juga hadir dari jajaran PWNU Banten, KH Hariman Anwar (Syuriyah) dan dari Tanfidziyah diwakiki oleh KH Sardani dan KH Sukron Makmun. Hadir juga para pengurus PCNU Kabupaten Serang KH Dahlan, Kota Serang, dan Kota Cilegon.

Dalam sambutannya, Rais ‘Aam PBNU menjelaskan bahwa di dalam tradisi pesantren tidak ada demo. Sejak santri mereka diajarkan untuk sami`na wa atha`na kepada kiainya. Kepemimpinan di pesantren adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kejernihan hati (shaf`aul qalbi), keridhoan guru dan orang tua.

“Santri pada umumnya tidak pernah bercita-cita mau jadi apa, tapi santri selalu siap pakai. Tidak pernah neko-neko tapi siap pakai,” ujar Kiai Miftah.

Dengan demikian, menurutnya, kesediaan Kiai Ma`ruf Amin (KMA) yang notabenenya adalah seorang ulama tapi mau terjun ke politik, tidak lain adalah karena dua alasan yang sangat fundamental, yaitu kebangsaan dan kemaslahatan.

NU punya komitmen untuk setia dan menjaga NKRI dari segala bentuk ancaman. Karena pada saat ini, memang di tengah-tengah kita semua ini, sudah betul-betul ada sebuah organisasi kecil yang punya karakter, menghancurkan atau menghilangkan semuanya.

“Kita bisa flashback sejarah. Di Hijaz dan negeri-negeri lain di Timur Tengah itu hancur karena kelompok-kelompok tersebut,” ucapnya.

Dulu, lanjut Kiai Miftah, di Saudi Arabia, ajaran yang ada adalah Aswaja. Namun setelah Wahabi, suatu organisasi kecil yang berkedok agama itu masuk dan bersekongkol dengan penguasa, maka semua bangunan akidah dan bangunan-bangunan hasil dari peradaban Islam yang ada dirusak. Situs-situs warisan budaya Islam yang luhur juga diratakan.

Seandainya bukan karena usulan komite Hijaz, yang diinisiasi oleh para pendiri NU, maka makam Rasulullah juga mungkin tidak bisa lagi diziarahi oleh umat Islam dari seluruh penjuru dunia.

Pada kesempatan yang sama, KH Ainul Yaqin mengatakan bahwa Banten punya kaitan yang kuat dengan NU, karena para pendiri dan para Kiai NU itu semua berguru atau memiliki silsilah keilmuan dengan Syekh Nawawi Al-Bantani.

Orang Banten secara silsilah masih nyambung dengan Syekh Nawawi. Tahun 1928 sudah dibentuk cabang NU Banten, dan pada tahun 1938 diadakan Muktamar NU di Menes. Ini tidak lain, karena Banten dan NU itu tidak dapat dipisahkan.

“Maka jika Banten saat ini NU-nya kendor, pengurusnya kurang semangat. Maka sebagai orang Banten, harusnya malu dengan ulama Banten yang tersohor itu, Syekh Nawawi Al-Bantani,” pungkas Kiai Ainul Yaqin.

Tags : Nahdlatul Ulama , KH Miftahul Achyar , Banten